Bukittinggi Trip
Beberapa hari menjelang kepulangan, akhirnya
saya jalan-jalan juga ke Bukittinggi! Ini dia yang saya tunggu-tunggu. FYI nih,
Bukittinggi itu nama kota lho ya, bukan nama sebuah bukit. Banyak orang yang
menyangka bahwa Bukittingi merupakan sebuah bukit yang tinggi. Ya nggak terlalu
salah sih, karena memang Bukittinggi terletak di dataran tinggi, dan merupakan
bagian dari Bukit Barisan.
Menuju Bukittinggi memakan waktu kurang lebih
90 menit, dari rumah saya di Kabupaten Solok. Karena merupakan rangkaian
pegunungan, untuk menuju Bukittinggi kita harus melewati jalan yang
berbelok-belok. Beruntung, saya nggak merasa mual atau pusing sama sekali. Bakat-bakat
jadi traveler, hehehe. Setelah melewati jalan-panjang-yang-berliku-tajam,
akhirnya kita sampai di Bukittinggi. Jangan khawatir, karena kalau udah memasuki
Kota Bukittinggi, jalan berbeloknya udah lenyap kok, yang ada tinggal jalan
raya layaknya di kota-kota di Indonesia.
Tujuan pertama, yaitu Situs Cagar Budaya Goa Jepang Panorama. Di tempat ini terdapat Goa Jepang atau Lobang Jepang. Lobang Jepang dulunya berfungsi sebagai bunker perlindungan yang dibangun oleh tentara Jepang. Karena waktu yang terbatas, saya nggak jadi masuk Lobang Jepang. It’s oke lah, may be next time :)
Tujuan pertama, yaitu Situs Cagar Budaya Goa Jepang Panorama. Di tempat ini terdapat Goa Jepang atau Lobang Jepang. Lobang Jepang dulunya berfungsi sebagai bunker perlindungan yang dibangun oleh tentara Jepang. Karena waktu yang terbatas, saya nggak jadi masuk Lobang Jepang. It’s oke lah, may be next time :)
Selain itu, kita juga bisa melihat Ngarai
Sianok yang membentang luas dan hijau. Sambil melihat pemandangan Ngarai Sianok
yang indah, kita juga bisa memberi makan pada kera-kera yang berkeliaran bebas.
Keluarga Kera di sini udah lumayan jinak, hanya saja akan berubah rakus kalau
udah melihat makanan. Beberapa makanan ringan dan minuman saya sempat dirampas
juga lho sama si kera-kera ini, hehehe.
Setelah puas di Lobang Jepang Panorama, kami
menuju ke Jam Gadang, yeay! Jadi, nggak cuma Inggris aja yang punya jam gede,
Indonesia juga punya. Jam Gadang merupakan titik nol kota Bukittinggi, alias
pusat kota. Kalau diperhatikan dengan saksama, ada sedikit keunikan dari Jam
Gadang, angka 4 yang pada huruf Romawi seharusnya IV, ditulis IIII.
Kalau ke Jam Gadang, belum lengkap rasanya
kalau belum mengunjungi Pasar Atas atau dalam Bahasa Minang disebut Pasa Ateh. Di sini terdapat berbagai
barang yang bisa dijadikan buah tangan, mulai dari gantungan kunci, kaos
Bukittinggi, sandal kulit, lukisan, dan sebagainya. Pokoknya buaaanyaakk
banggeettt!! Kalau soal harga, pinter-pinternya kita nawar ke uda atau uni penjualnya sih. Kalau nggak pinter nawar, bisa kena harga yang
tinggi banget. Dari dalam Pasar Atas, kita bisa melihat Jam Gadang dari
kejauhan. Gagah sekali! :)
Sebelum pulang, kita sempat mampir ke Tugu
Pahlawan Tak Dikenal. Di sini terdapat tugu pahlawan, yang tingginya sekitar 5
meter. Sesuai namanya, tugu ini dibangun untuk mengenang para pahlawan yang
namanya tidak bisa dikenali. Di dekat tugu, terdapat sebuah tulisan PAHLAWAN
TAK DIKENAL, dan juga sebuah kutipan Muhammad Yamin, “Mati luhur tak berkubur,
memutuskan jiwa meninggalkan nama, menjadi awan di angkasa, menjadi buih di
lautan, semerbak harumnya di udara.”
Comments
Post a Comment