Bulan. Perjalanan. Kita.

Dari jauh terdengar pengumuman bahwa kereta api akan segera diberangkatkan. Mereka berdua pun beranjak dari sana. Tanpa terburu-buru. Menapaki tanah becek dengan hati-hati. Tepat sebelum kereta berjalan, kaki mereka menjejak gerbong.

Di gang antargerbong yang sempit dan berguncang keras, keduanya berdiri sejenak. Kugy bisa merasakan jarak Keenan yang begitu dekat dengan punggungnya, membaui aroma minyak wangi yang samar tercium dari kemejanya, dan terasa sekali wajah Keenan menyentuh rambutnya.

Meski tempat mereka berdiri sangat berisik, Kugy dapat mendengar Keenan berbisik di sela-sela rambutnya yang berkibar ditiup angin. Entah Keenan berbisik untuknya, untuk dirinya sendiri, atau untuk mereka berdua. Namun dengan jelas Kugy menangkap tiga kata yang dibisikkan Keenan: “Bulan, perjalanan, kita…

Baru ketika duduk di bangkunya yang bersebelahan dengan jendela, Kugy menyadari bahwa bulan bersinar benderang di angkasa. Tanpa bisa ditahan, Kugy merasa pelupuk matanya menghangat, dan pandangannya berkaca-kaca. Ingin rasanya ia membungkus bisikan Keenan tadi, menyimpannya di hati. Tiga kata yang tak sepenuhnya ia pahami, tapi nyata ia alami saat ini.

Bulan. Perjalan. Mereka berdua.

(Perahu Kertas, h.62)

Comments