KAN Saniangbaka

Siang itu, matahari terasa sangat terik. Namun tidak menyurutkan niat saya untuk mengunjungi sebuah bangunan yang berada di tepi jalan Saniangbaka, sehingga selalu ramai oleh kendaraan yang lalu lalang. Dari kejauhan, atap runcing bangunan tersebut sudah terlihat.
Beberapa saat kemudian, sebuah bangunan yang ditopang oleh kayu-kayu besar tersuguh di depan mata saya. Di satu bagian bangunan terdapat papan yang bertuliskan Kerapatan Adat Nagari (KAN) Saniangbaka. Sayang, pada saat saya tiba di balai-balai, tidak ada kegiatan apapun di sana. Biasanya, jika sedang ada kegiatan adat seperti pengangkatan datuk, balai-balai selalu dipadati oleh warga Saniangbaka.
KAN Saniangbaka dilihat dari tepi jalan

Seperti kata pepatah Minang, dima rantiang dipatah, disinan sumua digali. Pepatah inilah yang dipegang oleh masyarakat Minang. Dalam keseharian masyarakat Minang, tidak ada satupun kegiatan yang terlepas dari adat dan budaya yang mereka miliki. Dimanapun dan kapanpun, masyarakat Minang selalu menjunjung adat dan budaya daerah. Siapapun, turut ikut serta dalam pelestarian adat dan budaya Minang.

Salah satu lembaga adat yang bertugas menjaga dan melestarikan budaya Minangkabau adalah Kerapatan Adat Nagari (KAN), yang terdiri dari beberapa unsur, yaitu penghulu (datuk dari setiap suku), manti (kalangan intelektual), malin (kalangan ulama), dan dubalang (petugas keamanan). Keempat unsur tersebut disebut sebagai Nan Ampek Jinih (Unsur Empat Jenis).

Setiap KAN memiliki kantor sekretariat, dimana tempat tersebut digunakan untuk kegiatan-kegiatan adat. Saniangbaka, salah satu nagari tertua di Minangkabau memiliki kantor sekretariat KAN, yang biasa disebut balai-balai oleh warga Saniangbaka. Balai-balai biasanya digunakan untuk tempat berkumpulnya para pemangku adat (tempat mufakat) dan juga masyarakat dalam kegiatan-kegiatan adat nagari. Salah satu kegiatan adat yang sering dilakukan di balai-balai adalah pengangkatan datuak (datuk).

Ukiran dengan warna yang mencolok selalu identik dengan Rumah Gadang

Balai-balai didominasi dengan warna merah, dengan ukiran-ukiran indah di setiap bagiannya. Biasanya, ukiran-ukiran tersebut bermotif bunga, daun, serta tumbuhan merambat. Bagian dalam balai-balai hanya terdapat satu ruangan lepas yang sering digunakan untuk berkumpul. Sedangkan bagian depan balai-balai, pada sayap bangunan sebelah kanan dan kiri terdapat ruang anjung yang biasanya digunakan untuk penobatan/pengangkatan kepala adat.

Atap KAN yang meruncing
Jendela KAN yang meskipun tertutup tetap terlihat cantik

Balai-balai tanpa kegiatan adat nagari memang terlihat sepi. Namun, atap runcing yang dimilikinya seakan-akan menjadi simbol yang menunjukkan kemegahan balai-balai. Sedangkan ukiran-ukirannya menyiratkan keindahan balai-balai. Saya begitu bersyukur berkesempatan untuk mengunjungi balai-balai, sehingga dapat menyaksikan kemegahan balai-balai meski tanpa ada kegiatan adat yang memeriahkan tempat berkumpulnya warga Saniangbaka ini.

Comments