Lagi-Lagi Kota Tua
Hampir sebulanan
yang lalu saya bersama tiga orang adik tingkat, Sufi, Iis, dan Nanda
(sebenarnya kita seumuran, lihat aja ntar, muka kita sama-sama imutnya), pergi
ke Jakarta. Kenapa Jakarta? Karena kita mau ikutan acaranya anak-anak Ilmu
Komunikasi di Depok. Jadilah kita mampir dulu ke Jakarta. Kebetulan rumah Nanda
di Jakarta. So, kita nggak mau menyia-nyiakan Nanda dong ya. Hehehe.
Kota Tua. Lagi-lagi tempat ini saya kunjungi. Nggak tau kenapa ya, Kota Tua membuat saya pengen balik ke sana lagi. Mungkin karena bangunan-bangunan uniknya. Setelah tahun lalu saya mengunjungi tempat ini juga, ceritanya bisa dilihat di sini.
Berangkat pagi-pagi dari rumah Nanda di daerah Pondok Kopi, Jakarta Timur. Kita berempat naik KRL menuju stasiun Jakarta Kota. Sesampainya di Jakarta Kota, kita harus jalan kaki dulu lho pemirsa! Walaupun panas-panasan tapi tak mengapa asal bisa ke Kota Tua lagi. Kota Tua masih seperti dulu, setahun yang lalu. Masih ramai dengan orang yang lalu lalang, masih ada orang-orang yang jadi patung. Intinya, Kota Tua nggak banyak berubah. Masih unik!
Karena tahun
lalu nggak keturutan ke Pelabuhan Sunda Kelapa, akhirnya kemarin keturutan juga!
Ternyata Pelabuhan Sunda Kelapa itu jauuuuuhh banget dari Museum Fatahillah.
Tadinya kita mau nyewa sepeda sama guide-nya
gitu. Tapi karena mahal banget dan kita nggak rela mengeluarkan duit sebanyak
itu, akhirnya kita memutuskan untuk jalan kaki! Itung-itung olahraga deh, hahaha.
Tapi jalan kaki
hanya menjadi wacana. Udah terlalu sore dan nggak kuat lagi buat jalan kaki,
akhirnya kita naik angkot. Fiuuhh, untung ada angkot! Kalau nggak ada angkot
mungkin kaki kita udah berkonde semua ya? Hahaha.
Turun dari
angkot, kita masih jalan kaki lagi untuk sampai di pelabuhan. Setelah jalan
kaki lumayan jauh dan lumayan lama, serta tanya sana-sini, akhirnya kita sampai
juga di Pelabuhan Sunda Kelapa, yang dari dulu pengen banget saya kunjungi!
Whooooaaa, finally touch down! Oh
iya, jadi sebenarnya Pelabuhan Sunda Kelapa itu kayak nggak dibuka buat umum
gitu. Kata petugas keamanan di sana, buat masuk ke pelabuhan harus ada ijin
gitu. Tapi kita nggak menyerah dong. Pengorbanan kita jalan kaki sejauh itu
akhirnya terbayar ketika Nanda menemukan pintu kecil buat masuk ke pelabuhan.
Setelah ibadah
di masjid dekat pelabuhan, kita balik lagi ke Museum Fatahillah. Dan kita
terkaget-kaget dibuatnya. Kota Tua di malam hari ternyata baguuuusss
bangeeettt! Akhirnya kita leyeh-leyeh dulu di Kota Tua, menikmati malam yang
aduhai sambil ngobrol-ngobrol nggak jelas. Padahal sebelumnya kita berencana
untuk beli Martabak Pecenongan, yang katanya legendaris banget. Semuanya menjadi
wacana gara-gara hipnotis dari Kota Tua malam hari.
Capek, tapi seneng. Seneng karena akhirnya bisa melihat Pelabuhan Sunda Kelapa secara langsung, plus seneng karena banyak koleksi foto-foto narsis. Ketika pulang, kita juga masih sempet selfie di KRL, mumpung KRL-nya masih sepi, hehehe. Walaupun
pegel-pegel, tapi tetep eksis.
Thanks buat adik-adikku (yang seumuran) Sufi, Iis, Nanda, kalian luar biasa! ;)


Kalo naek KRLnya pas hari kerja pagi jam berangkat kerja pasti lebih menjiwai Jakarta mbak..
ReplyDeleteMBAK SINTAAAAAA...AAA this post succesfully make me baper. Aahh inget bgt kita dr jalan ke stasiun kota udah jauh. Tp takjub sm kota tua yg ajib. Eh aku pake acra PMS sgla yg bikin badmood , sakit, dan semeste mendukung dengan mendungnya. Eh abis dah minun kirant* (promosi) awannya bye bye. Diinget2 jaraknya jauuuuh lho ya. Sampe nglewatin menara. Pulangnya kemaleman, glesotan di stasiun, pdhl pagi buta kita kudu ke depok dan tebakmenebak siapa mas LO a.k.a mas ryan ewkwk. 💜💜💜
ReplyDelete