Be a Jakartan


Dua bulan bukanlah waktu yang cukup untuk beradaptasi di Jakarta. Boleh dibilang kalau waktu dua bulan itu sangatlah singkat, sangat kurang. Menurut saya, dua bulan adalah masa-masanya menyesuaikan diri dengan keadaan Jakarta yang benar-benar berbeda jauh dari tempat tinggal saya di Magelang dan tempat kuliah saya di Solo. Seperti pendatang lainnya, saya berusaha untuk beradaptasi, meskipun pada kenyataannya sangat sulit untuk menyesuaikan diri.



Menjadi seorang Jakartans bukan perkara mudah. Saya harus banyak-banyak bersabar menghadapi apapun yang terjadi di sini. Seperti contoh, jalanan Jakarta yang selalu padat setiap hari. Untuk menyeberang jalan saja saya butuh waktu yang cukup lama, menunggu hingga kendaraan tidak terlalu padat. Ada juga angkutan umum yang berhenti sembarangan, menaikkan dan menurunkan penumpang di tengah jalan. Di jalanan Jakarta akan sangat mudah bagi kita untuk mengumpat.

Awalnya saya menyerah, ingin pulang rasanya. Setiap hari telepon ke rumah, mengeluh ingin pulang. Tapi pada akhirnya saya cukup menikmati Jakarta, sedikit demi sedikit saya mulai beradaptasi. Mulai dari lalu lintas, makanan, cuaca, pergaulan, masyarakat, dan semua yang ada di dalamnya.

Selama dua bulan ini, saya berada jauh dari rumah untuk melaksakan kegiatan Kuliah Kerja Komunikasi alias magang, yang memang diwajibkan oleh pihak kampus. Sesuai passion, saya memilih magang di bidang jurnalistik. Alhamdulillah, saya diterima magang di salah satu majalah travel yang cukup terkemuka di Indonesia. Di majalah tersebut saya menjadi bagian dari editorial team, lebih tepatnya jurnalis, dimana tugasnya adalah meliput berita, menulis berita, mengolah berita, membuat artikel untuk majalah dan web, membuat materi untuk sosial media, dsb.

Perkara adaptasi di lingkungan kerja masih bisa diatasi. Meskipun awalnya merasa berat, tapi lama-lama terbiasa dan justru malah senang. Kenapa? Karena liputannya bukan liputan orang demo atau kerusuhan. Karena magang di majalah travel, liputannya ya seputar wisata, kuliner, dan budaya. Pernah saya liputan museum-museum di Jakarta, pernah juga liputan makan sate Padang. Jadi nggak berasa liputan ya, hehehe. Tapi ada juga liputan event-event di Jakarta, seperti Festival Kreatif yang diadakan Kemenparekraf, dan juga liputan launching buku di Kedutaan Belanda.

Bagi saya Jakarta bukanlah tempat yang aman dan nyaman untuk ditinggali. Tapi di sisi lain saya memberikan dua jempol untuk Jakarta. Karena di sini saya tidak hanya belajar jurnalistik di tempat magang, tapi saya juga banyak belajar tentang kehidupan. Pada akhirnya setelah dua bulan, saya harus bertolak ke tempat asal, kembali ke ruang nyaman. Semoga saya tidak dianggap menyerah, karena mundur selangkah atas keadaan. Akhirnya saya harus pulang. Terimakasih, Jakarta!

Comments

Post a Comment