How My Life Changed in Fatukoto

Ketika saya memutuskan untuk mengikuti KKN Tematik Integratif Luar Pulau, saya masih bertanya pada diri saya sendiri.  Sebenarnya apa yang saya cari? Keluar dari ruang nyaman, pergi meninggalkan kebiasaan sehari-hari. Saya pun tidak tau. Jadi saya memutuskan untuk diam, mengikuti apa yang hati saya inginkan. Ini bukan tentang apa yang kita cari, namun tentang apa yang akan kita lakukan ketika kita pergi meninggalkan ruang nyaman, meskipun itu hanya sementara waktu. Apakah kita pergi untuk hal yang bermanfaat?

Mengajar di SD Satap

Setiap pagi kami harus melawan cuaca dingin untuk antri berwudhu. Setelah itu kami harus membereskan tempat kami tidur semalam, melipat sleeping bag yang kami gunakan untuk tidur. Ah ya, kami tinggal menumpang di rumah warga setempat. Karena kami berjumlah 37 orang, kami dibagi ke dalam tiga rumah. Bagaimana jika mandi? Mandi pun tetap harus antri. Itu pun kalau ada air, kalau tidak ada air, kami cukup cuci muka di pancuran. Pancuran adalah semacam aliran air bersih di dekat rumah. Airnya dialirkan melalui sebatang bambu. Biasanya di sanalah kami mencuci pakaian ataupun mencuci piring.

Sebelum siang kami sudah harus siap melaksanakan program masing-masing. Kami, Tim KKN NTT, terbagi dalam 3 program yaitu pendidikan, pertanian, dan pariwisata. Saya termasuk dalam program pendidikan, dimana saya ikut belajar dan bermain bersama anak-anak di Desa Fatukoto. Untuk itu kami harus mengajar untuk dua sekolah, SD Satap dan SD Inpres Oelnonon.

SD Satap hanya berjarak beberapa meter dari tempat kami tinggal. Berjalan kaki pun tidak butuh banyak waktu. Di sekolah yang satu lingkungan dengan SMP Satap ini, kami mengajar setiap Senin hingga Kamis. Sementara untuk SD Inpres Oelnonon, kami mengajar seminggu dua kali, Selasa dan Kamis. SD Inpres Oelnonon jaraknya cukup jauh, sekitar 45 menit berjalan kami. Beruntung sesekali kami dapat menyewa otto untuk sampai di Dusun Oelnonon.

Jalan menuju Dusun Oelnonon, indah bukan? :)
Ketika mengajari menulis di SD Inpres Oelnonon

Mengajar siswa SD disini bukan perkara mudah. Selain kendala bahasa, kami juga sedikit kesulitan karena sejumlah siswa belum dapat membaca. Tak ada pilihan lain, tentu saja kami harus mengajari mereka membaca. Namun dengan intensitas mengajar yang tidak terlalu banyak, kami belum dapat melihat mereka membaca dengan lancar.

What do you think about it? Sedih rasanya mengetahui mereka belum lancar membaca :(

Tidak hanya mengajar, kami juga mengadakan outbond untuk siswa SD-SMP Satap. Belajar, bermain, hingga bernyanyi bersama. Kegiatan ini tidak hanya dikerjakan oleh Tim Pendidikan, tetapi juga oleh Tim Pertanian dan Tim Pariwisata. Kegiatan ini benar-benar membawa kami dalam kebersamaan, membuat kami semakin dekat dengan anak-anak Desa Fatukoto.

Membuat yel-yel untuk kegiatan outbond
Ketika sore hari, kami berkumpul bersama. Tidak tersedianya aliran listrik justru membuat kami semakin akrab, karena jarang sekali kami menggunakan smartphone. Waktu senggang seperti ini kami manfaatkan untuk mengenal warga setempat, duduk-duduk santai di depan rumah, jalan-jalan sore, ataupun bermain sepak bola bersama anak-anak Desa Fatukoto. 

Begitupun ketika malam hari. Malam hari adalah waktu ketika kami semua berkumpul bersama, tanpa kecuali. Jika di siang dan sore hari kami harus melaksanakan program, maka di malam hari kami harus berkumpul, bertukar cerita masing-masing program. Setelah sholat maghrib dan isya berjamaah, kami melaksanakan ritual makan-sepiring-berdua. Antri untuk mendapat makan lebih awal, kemudian makan sepiring berdua dengan teman.

Disini, hidup begitu mudah. Disini, waktu begitu cepat terlewati. Sungguh, hidup disini begitu berbeda dari biasanya. Terimakasih Fatukoto, telah mengajarkan hal-hal baru. Terimakasih Fatukoto, dimana hidup saya jauh berbeda dari kebiasaan sehari-hari.

Comments

  1. Seru ya Mbak ^^ awalnya cuma baca nama daerahnya kukira itu di luar negeri, di Jepang :p

    Miris ya melihat pendidikan yang begitu tidak merata di Indonesia ini u.u

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo mbak, iya nih, banyak yang bilang begitu, dikira Jepang hehehe

      iya mbak, kasian mereka, umur segitu belum lancar membaca. padahal nantinya mereka yang akan mengembangkan daerahnya biar jadi lebih baik.

      Delete
  2. baru tau ada ritual makan-sepiring-berdua :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, itu kebiasaan kami ketika KKN, maksudnya supaya tidak terlalu banyak piring yang dicuci, otomatis kami bisa menghemat air :)

      Delete
  3. Mbk, boleh copy fotonya, insyaallah mau menyusul kkn kesana, doakan ya mba,

    ReplyDelete
    Replies
    1. hai aozora, boleeehh, tapi jangan lupa sertakan sumbernya yaaa, alamat blog ini misalnya ;)

      Delete

Post a Comment

Popular Posts