Dari Kalimati Sampai Ranu Kumbolo
Matahari sudah
tepat berada di atas kepala saat kami turun menuju Kalimati. Perjalanan turun
dari Mahameru memang tidak sesulit ketika naik. Karena trek turunan dan
berpasir, saya, Lucky, dan Rendi malah asyik bermain seluncuran. Sementara
Puspa dan Farah sudah berjalan terlebih dahulu. Terkadang kami harus berdiri
dari duduk kami untuk menghindari batu-batu yang menghadang. Setelah itu kami
kembali bermain seluncuran. Rasanya seperti mengenang masa kecil, mengobati
kekecewaan saya yang belum diijinkan untuk menginjakkan kaki di puncak Mahameru.
![]() |
| Puncak Mahameru dilihat dari Kalimati |
Setibanya di Kalimati, waktu sudah menunjukkan pukul 1 siang. Setelah makan siang dan beribadah, kami beristirahat sejenak, menggantikan waktu istirahat kami semalam yang hanya beberapa saat. Siang hari di Kalimati tidak seperti malam hari yang begitu menggigil. Entah kenapa, saya sangat suka dengan suasana siang hari di Kalimati. Melihat tenda-tenda di samping kanan dan kiri, saya merasa begitu nyaman. Saya merasa tempat ini bukan hanya sekedar tempat persinggahan. Siang itu Kalimati begitu damai.
![]() |
| Siang hari di Kalimati. I miss this moment :) |
Sore hari,
setelah packing, kami melanjutkan perjalanan.
Kembali ke Ranu Kumbolo yang merupakan surganya Gunung Semeru. Perjalanan
Kalimati-Ranu Kumbolo hanya memakan waktu sekitar 3 hingga 4 jam, lebih cepat
dari pada perjalanan Ranu Kumbolo-Kalimati. Setibanya di Ranu Kumbolo, kami
langsung mencari tempat untuk mendirikan tenda. Ranu Kumbolo membuat kami
begitu menggigil, karena suhu minimal di Ranu Kumbolo mencapai -5 hingga -20
derajat celcius.
Tenda sudah
berdiri, air pun sudah mendidih. Saatnya menyeduh teh untuk menghangatkan
tubuh. Setelah itu, kami menikmati makan malam dengan lauk ikan sarden. Kemudian
kami pun tertidur dalam dinginnya Ranu Kumbolo, dibuai oleh suara alam yang
membuat kami semakin sering untuk bersyukur. Terimakasih atas nikmat-Mu, Tuhan.
Pagi yang
dinanti pun tiba, pagi hari di Ranu Kumbolo. Kami pun bergegas menuju tepian
danau, menunggu matahari terbit. Tubuh kami masih menggigil, membuat kami harus
sering-sering menggerakkan tubuh untuk menghalau dingin. Pagi itu, Ranu Kumbolo
begitu indah. Bukit, danau, dan kabut bersatu dalam lukisan Tuhan yang tak
dapat dibeli. Pagi itu, Ranu Kumbolo menjadi panggung pertunjukan. Kami, para
pendaki, adalah penontonnya.
![]() |
| Ranu Kumbolo dan kabutnya yang mistis |
Matahari pun
muncul di antara dua bukit, berpadu dengan air danau yang bening dan kabut yang
mistis. Sungguh keindahan Ranu Kumbolo tidak dapat diungkapkan dengan
kata-kata. Kami pun mengabadikan beberapa gambar untuk dibawa pulang. Sunrise terindah dari Ranu Kumbolo,
sebagai buah tangan untuk kami sendiri. Agar kami selalu bersyukur atas nikmat
yang Tuhan berikan.
Keberadaan Ranu
Kumbolo sangat berguna bagi para pendaki. Ranu Kumbolo merupakan tempat
istirahat bagi para pendaki yang akan melanjutkan perjalanan ke Kalimati,
ataupun bagi mereka yang akan kembali ke Ranupani. Bahkan ada beberapa yang
datang hanya untuk camping di Ranu
Kumbolo. Sebuah keluarga tak sengaja saya temui ketika di Ranu Kumbolo.
Keluarga tersebut ternyata berasal dari Jakarta. “Cuma sampai Ranu Kumbolo, mbak. Biar anak-anak ngerti alamnya seperti
apa,” ujar si ibu. Saya sempat ngobrol sebentar dengan si ibu, dan saya
salut dengan keluarga ini. Mereka mengajarkan mengenai alam secara langsung kepada
anak-anaknya.
![]() |
| Tenda-tenda dan shelter tempat istirahat para porter di Ranu Kumbolo |
Air dari danau
pun aman untuk dikonsumsi. Oleh sebab itu pendaki tidak diperbolehkan untuk mandi,
berenang, buang sampah sembarangan, buang air besar atau kecil, ataupun mencuci
peralatan menggunakan deterjen di danau. Pendaki harus mengambil air
menggunakan botol, kemudian menggunakan air tersebut jauh di tepian danau. Hal
ini dilakukan agar air danau tetap bersih dan tidak bercampur dengan limbah.
![]() |
| Packing sebelum kembali ke Ranupani |
Menjelang siang,
kami bersiap-siap untuk kembali ke Ranupani. Namun sebelum itu, kami harus
mengabadikan momen di Ranu Kumbolo.
![]() |
| Terimakasih teman-teman. Semoga lain waktu bisa mendaki bareng lagi ya! |
Ranu Kumbolo
yang begitu menawan. Ingin rasanya lebih lama tinggal di sini, menikmati
indahnya Ranu Kumbolo sambil bercengkerama dengan alam. Atau hanya sekedar
duduk bersila di tepi danau, menghabiskan waktu sampai sore menjelang. Sungguh,
suatu saat nanti saya akan kembali lagi ke sini. Menikmati Ranu Kumbolo untuk
waktu yang lebih lama.
---
Cerita selanjutnya :
Menuju Ranupani, Menuju Pulang: Melewati Jalur Ayak-Ayak
Cerita sebelumnya :
Menjejak Langkah Menuju Semeru
---
Cerita selanjutnya :
Menuju Ranupani, Menuju Pulang: Melewati Jalur Ayak-Ayak
Cerita sebelumnya :
Menjejak Langkah Menuju Semeru








Comments
Post a Comment