Menjejak Langkah Menuju Semeru

Ada yang bilang, akhir-akhir ini banyak orang mendaki gunung karena sedang tren, hanya untuk update social media, hanya untuk gaya-gayaan. Seperti contohnya instagram, yang baru-baru ini menjadi media untuk mempublikasikan destinasi wisata, salah satunya destinasi yang berbau adventure. Saya sendiri sebenarnya udah pengen mendaki sejak awal kuliah. Kebetulan baru terealisasi pada November 2014 lalu, dimana kegiatan naik gunung sedang hits di instagram. Tapi nggak masalah, yang penting tetap utamakan keselamatan dan bawa turun sampahnya ya ehehe.

Puspa-Rendi-Lucky-Farah

Kembali ke cerita. Jadi saya dan lima orang teman (LatifPuspaFarahLucky, dan Rendi) mendaki Gunung Semeru sekitar dua minggu yang lalu. Kami menuju Ranupani dari Solo dengan rute Solo-Malang-Tumpang-Ranupani. Btw, kami naik sepeda motor looohhh. Iya, sepeda motor. Berjam-jam lamanya menuju Malang, Tumpang, kemudian Ranupani. Sampai pegel-pegel ini pinggang :’)

Perjalanan dari Tumpang ke Ranupani jika menggunakan jeep harga sewanya sekitar 600 ribu. Jeep tertutup untuk kapasitas 6 orang, sementara jeep terbuka bisa mencapai 12 orang. Karena kita pengennya hemat, jadilah kita naik sepeda motor (lagi) menuju Ranupani.

Finally we arrived at Ranupani!Di Ranupani, kita harus registrasi terlebih dahulu. Untuk mendaki Gunung Semeru, kita diharuskan untuk membawa Surat Keterangan Kesehatan dari dokter. Setelah registrasi, dilanjutkan dengan briefing dan pemeriksaan kelengkapan dan peralatan apa saja yang kita bawa. Nggak lengkap, nggak boleh nanjak! Cara ini dilakukan supaya tidak ada pendaki yang mengalami hal-hal yang tidak diinginkan karena kesalahannya sendiri.

Ranupani - Watu Rejeng - Ranu Kumbolo


Kami memulai perjalanan pada pukul 12. Perjalanan dari Ranupani menuju Ranu Kumbolo memakan waktu 5 hingga 6 jam perjalanan. Dalam perjalanan menuju Ranu Kumbolo, terdapat 4 selter sebagai tempat beristirahat. Untuk menuju Ranu Kumbolo, para pendaki melewati hutan hujan basah yang disebut dengan Watu Rejeng. Setelah melewati Watu Rejeng, perjalanan dilanjutkan hingga keluar dari hutan. Menurut saya, perjalanan Ranupani-Ranu Kumbolo lumayan santai. Banyak terdapat trek landai, sehingga memudahkan para pendaki.

Namun karena dua hari hujan melanda Gunung Semeru, beberapa trek mengalami longsor. Seperti ketika perjalanan menuju Ranu Kumbolo, kami harus melewati sebanyak 3 hingga 4 longsoran tanah. Longsoran pertama sudah diberi tali antara sisi yang satu dengan sisi lainnya, sementara longsoran lain belum ada pengaman sama sekali.

Saya waktu menyeberangi longsoran. Merinding-merinding gimanaaaa gitu lihat jurang di sebelah kiri.

Ranu Kumbolo - Oro Oro Ombo - Cemoro Kandang - Kalimati

Pukul 5 sore, kami tiba di Ranu Kumbolo. Di danau yang berada pada ketinggian 2.400 mdpl ini, kami hanya beristirahat sebentar untuk beribadah. Kemudian perjalanan dilanjutkan menuju Kalimati dengan lama perjalanan 4 sampai 5 jam. Perjalanan dimulai dengan melewati Tanjakan Cinta. So, who do you think while you walk through Tanjakan Cinta? Kalau saya sih mikirin skripsi, hihihi.

Who do you think while you walk through Tanjakan Cinta?
Setelah itu kita akan melewati Oro-Oro Ombo, sebuah padang rumput yang sangat luas. Apesnya, kami harus melewati genangan air hujan setinggi lutut. Seger-seger dingin menggigil gimana gitu malem-malem kena air, hehehe. Selanjutnya kami memasuki daerah dengan pohon cemara yang disebut Cemoro Kandang. Trek di Cemoro Kandang terbilang cukup menanjak. Sampai-sampai kami harus berhenti cukup lama. Ngemil-ngemil dulu kak, biar makin semangat :)

Kalimati - Mahameru

Sesampainya di Kalimati waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, terlalu malam untuk tiba di Kalimati. Karena biasanya pukul 12 malam kita harus memulai summit attack menuju Mahameru. Karena itu, kami baru melakukan summit attack pukul 2 dini hari. Perjalanan dari Kalimati menuju Mahameru memakan waktu 6 hingga 7 jam.

2 jam pertama, trek menanjak cukup membuat kami sesak napas. Terutama saya dan Farah yang sebentar-sebentar minta berhenti, hehehe. Berikutnya mulai memasuki trek dengan tanjakan berpasir. Disini kita akan diuji kesabarannya, karena jalan selangkah, mundur bisa sampai tiga langkah.

Pada trek tanjakan berpasir ini, entah kenapa maag saya kambuh. Alhasil saya hampir putus asa, karena rasanya perut sudah tidak karuan. Saya pun tidak membawa obat maag, tertinggal di tenda. Meskipun begitu, ketika saya melihat teman-teman saya yang begitu bersemangat, saya pun menjadi terpacu. Akhirnya saya melanjutkan perjalanan, walaupun sangat pelan.

Pukul 5 pagi, matahari sudah muncul. Kami pun semakin bersemangat untuk melewati tanjakan berpasir ini. Alhamdulillah, meskipun belum berada di puncak, kami sudah dapat melihat “Samudera di Atas Awan”.

Samudera di Atas Awan, thanks God
Berhenti sejenak sambil menikmati sunrise
Semakin ke atas, rasanya maag saya semakin parah, ingin buang isi perut rasanya. Ini sakit maag paling parah yang pernah saya alami! Karena sudah nggak kuat, saya meminta teman-teman saya untuk naik terlebih dahulu. Sementara saya berhenti di tengah jalan. Beberapa pendaki yang melihat saya sendirian mengajak saya untuk summit attack bersama. Saya pun menerima ajakan mereka. Perlahan tapi pasti, akhirnya saya melangkahkan kaki kembali. Berharap dapat menyusul 4 orang teman saya yang mungkin sekarang sudah sampai di Mahameru.

Mbaknya mau naik sampai puncak? Nanggung lho mbak, ntar sampai atas mbaknya disuruh turun,” kata seorang pendaki ketika waktu menunjukkan pukul 9 pagi. Saat itu rasanya matahari berada sangat dekat dengan kepala, panas menyengat, namun angin tetap terasa dingin. Ah ya, kenapa nggak boleh lebih dari jam 10 pagi? Karena Kawah Jonggring Saloko mengeluarkan asap beracunnya di atas pukul 10. Jadi, semakin siang semakin berbahaya.

Akhirnya, dengan rasa penyesalan yang teramat dalam, saya terpaksa berhenti. Bukan karena saya menyerah, tapi karena saya dipaksa untuk berhenti. Saya pun menunggu pada sebuah batu besar bersama seorang pendaki asal Surabaya, Mbak Asri namanya. Selama 1 jam lebih, saya menunggu sambil berbagi cerita dengan Mbak Asri, yang ternyata adalah mahasiswi Universitas Airlangga. Penyesalan saya agaknya sedikit berkurang, karena saya bisa berbagi cerita dengan pendaki lain.

You are the champions, my friends!
Selamat kepada Puspa, Farah, Lucky, dan Rendi yang berhasil mencapai tanah tertinggi di Pulau Jawa. Maaf, saya sempat merepotkan kalian. Nggak sampai puncak rasanya sedih banget, padahal tinggal sedikit lagi. Banyak yang bilang bahwa “puncak bukanlah tujuan utama dari sebuah pendakian”, dan kalimat itulah yang akhirnya menguatkan saya. Bahwa suatu saat nanti saya akan kembali lagi ke sini, menuju Mahameru!

---

Cerita selanjutnya :
Dari Kalimati Sampai Ranu Kumbolo
Menuju Ranupani, Menuju Pulang: Melewati Jalur Ayak-Ayak

Comments

  1. Yaaaah Sin, sayang, tanggung banget eh itu.. Tapi kwereeen eh.. Di geber sampe Kalimati trus Mahameru. Dan seperti biasa, selalu ada alasan untuk kembali. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nanggungnya parah ini mas, dikiiiittt lagi. Tapi ya gimana, kita mulai summit attack-nya udah kesiangan juga sih hehehe.

      Yoi mas, selalu. Harus balik ke situ lagi pokoknya, HARUS :)

      Delete
    2. Laaaah, tapikan emang mbok geber githu Sin. Apalagi maag parah, bener sih jangan dipaksa dulu. Kata orang tujuan utama naik gunung itu pulang ke rumah. hehehe

      Yook ndono maneh. haha

      Delete
    3. Iya sih, mungkin next time emang harus istirahat di Ranu Kumbolo dulu sebelum ke Kalimati. Kan niate biar ke Ranu Kumbolo nya pas balike gitu mas.

      Yooookkk. Tenan iki? Wahahaha

      Delete
  2. Aaakkkk..kereeennn..
    Kapan daku bs kesituuuhhhh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo Inda, ayo diluangkan waktunya buat mendaki :)

      Delete
  3. belum kesampaian mendaki semeru. suatu saat, semoga :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts