Menuju Ranupani, Menuju Pulang : Melewati Jalur Ayak-Ayak
Setelah menghabiskan
waktu yang cukup lama untuk mengambil beberapa foto di Ranu Kumbolo, kami memutuskan untuk
kembali pulang, kembali ke Ranupani. Untuk pulang, kami melewati jalur
Ayak-Ayak. Selain karena adanya beberapa trek yang longsor di jalur Watu Rejeng, kami juga ingin
berganti suasana. Melewati jalur Ayak-Ayak menempuh waktu 4 jam, lebih
cepat daripada melewati jalur Watu Rejeng.
![]() |
| Jalur Ayak-Ayak (disebut Bukit Ayek-Ayek oleh warga sekitar) yang dihiasi oleh padang rumput di sisi kanan dan kiri |
Jalur Ayak-Ayak dimulai dengan melewati jalan setapak dengan pemandangan padang rumput yang sangat luas. Ditambah lagi dengan pemandangan bukit Ayak-Ayak di sisi kiri. Jalur yang kami lewati sangatlah panjang, seperti tak ada habisnya, namun pemandangannya membuat lelah yang kami rasakan menjadi sedikit berkurang. Kami pun berhenti sejenak untuk istirahat dan berfoto.
![]() |
| Bukit hijau di sisi kiri, yang membuat perjalanan pulang semakin berkesan |
Setelah berfoto,
kami pun melanjutkan perjalanan melintasi padang rumput. Setelah itu
‘perjalanan’ yang sebenarnya pun dimulai. Kami harus melewati tanjakan demi
tanjakan yang cukup curam. Lah, katanya
perjalanan pulang, perjalanan turun gunung, kok malah jalannya nanjak? Iya,
karena kami harus melintasi bukit.
Awalnya saya
masih percaya diri melewati tanjakan demi tanjakan. Namun setelah beberapa
tanjakan, saya minta break karena
harus mengatur napas. Setelah itu, seperti biasa, saya dan Farah selalu minta break setelah melewati satu tanjakan.
Bahkan, Farah sempat berhenti sebelum tanjakan habis. Iya sih, waktu yang
dibutuhkan lebih singkat daripada jalur Watu Rejeng, tapi tanjakannya itu
lhoooo, mantap kakaaakk hihihi.
Setelah cukup
lama melewati tanjakan yang tak ada habisnya ini, akhirnya kami menemukan
tempat yang tepat untuk beristirahat. Teduh dan tidak terlalu sempit, sehingga
tidak mengganggu pendaki lain yang lewat. Di tempat ini kami beristirahat
dengan pendaki lain, yang usianya jauh berbeda dari kami. Sembari mengatur
napas, kami pun berbagi cerita dengan tim tersebut. Sementara saya dan Farah
sibuk mengunyah. Iya, kami kelaparan :’) Kalau kata Farah, “Jalannya paling lama, makannya paling banyak.”
Setelah itu
perjalanan kembali dilanjutkan. Kali ini tanjakan lebih panjang dan curam,
karena sudah mendekati puncak bukit. Yes,
it’s summit to Ranupani! Sepanjang perjalanan menuju puncak (bukit), kami sempat
beberapa kali berhenti. Ternyata dari sini puncak Mahameru terlihat cukup
jelas.
![]() |
| Puncak Mahameru terlihat cukup jelas dari tanjakan |
Akhirnya kami
pun sampai di ‘puncak’. Setelah itu tak ada lagi tanjakan, yang ada hanya trek
turunan. Pada trek ini, saya tidak bisa berjalan lambat, karena jika berjalan
lambat maka akan terasa sangat lelah. Di trek ini saya lebih sering berlari,
karena memang sangat sulit untuk berhenti. Rasanya kaki tidak bisa di-rem.
Waktu sudah
menunjukkan pukul 4 sore, kami pun bergegas agar tidak terlalu gelap ketika
sampai di Ranupani. Trek turunan pun sudah kami lewati, setelah itu kami harus
melewati perkebunan warga untuk sampai ke Ranupani. Sebenarnya dari sini kami
bisa saja menyewa ojek, yang hanya memakan waktu 10 menit. Karena setelah
melewati turunan, banyak ojek yang sudah menunggu pendaki untuk menggunakan
jasanya. Namun kami memilih untuk melanjutkan berjalan kaki, biar
TOTALITAS! Hehehe.
![]() |
| Action dulu kak, mumpung kamera masih nyala hihihi |
Akhirnya kami
pun tiba di Ranupani sebelum gelap. Rasanya masih tak percaya sudah
menginjakkan kaki di gunung tertinggi di Pulau Jawa ini. Rasanya masih seperti
mimpi. Alhamdulillah, sudah diberi
kesempatan untuk ke sini. Lagi dan lagi, selalu ada keinginan untuk kembali. Semoga
nanti diperkenankan lagi, amin :)
---
Cerita sebelumnya :
Menjejak Langkah Menuju Semeru
Dari Kalimati Sampai Ranu Kumbolo
---
Cerita sebelumnya :
Menjejak Langkah Menuju Semeru
Dari Kalimati Sampai Ranu Kumbolo





Comments
Post a Comment