Menuju Ranupani, Menuju Pulang : Melewati Jalur Ayak-Ayak

Setelah menghabiskan waktu yang cukup lama untuk mengambil beberapa foto di Ranu Kumbolo, kami memutuskan untuk kembali pulang, kembali ke Ranupani. Untuk pulang, kami melewati jalur Ayak-Ayak. Selain karena adanya beberapa trek yang longsor di jalur Watu Rejeng, kami juga ingin berganti suasana. Melewati jalur Ayak-Ayak menempuh waktu 4 jam, lebih cepat daripada melewati jalur Watu Rejeng.

Jalur Ayak-Ayak (disebut Bukit Ayek-Ayek oleh warga sekitar) yang dihiasi oleh padang rumput di sisi kanan dan kiri

Jalur Ayak-Ayak dimulai dengan melewati jalan setapak dengan pemandangan padang rumput yang sangat luas. Ditambah lagi dengan pemandangan bukit Ayak-Ayak di sisi kiri. Jalur yang kami lewati sangatlah panjang, seperti tak ada habisnya, namun pemandangannya membuat lelah yang kami rasakan menjadi sedikit berkurang. Kami pun berhenti sejenak untuk istirahat dan berfoto.

Bukit hijau di sisi kiri, yang membuat perjalanan pulang semakin berkesan
Setelah berfoto, kami pun melanjutkan perjalanan melintasi padang rumput. Setelah itu ‘perjalanan’ yang sebenarnya pun dimulai. Kami harus melewati tanjakan demi tanjakan yang cukup curam. Lah, katanya perjalanan pulang, perjalanan turun gunung, kok malah jalannya nanjak? Iya, karena kami harus melintasi bukit.

Awalnya saya masih percaya diri melewati tanjakan demi tanjakan. Namun setelah beberapa tanjakan, saya minta break karena harus mengatur napas. Setelah itu, seperti biasa, saya dan Farah selalu minta break setelah melewati satu tanjakan. Bahkan, Farah sempat berhenti sebelum tanjakan habis. Iya sih, waktu yang dibutuhkan lebih singkat daripada jalur Watu Rejeng, tapi tanjakannya itu lhoooo, mantap kakaaakk hihihi.

Jalur Ayak-Ayak yang kami lewati, dilihat dari atas tanjakan
Setelah cukup lama melewati tanjakan yang tak ada habisnya ini, akhirnya kami menemukan tempat yang tepat untuk beristirahat. Teduh dan tidak terlalu sempit, sehingga tidak mengganggu pendaki lain yang lewat. Di tempat ini kami beristirahat dengan pendaki lain, yang usianya jauh berbeda dari kami. Sembari mengatur napas, kami pun berbagi cerita dengan tim tersebut. Sementara saya dan Farah sibuk mengunyah. Iya, kami kelaparan :’) Kalau kata Farah, “Jalannya paling lama, makannya paling banyak.”

Setelah itu perjalanan kembali dilanjutkan. Kali ini tanjakan lebih panjang dan curam, karena sudah mendekati puncak bukit. Yes, it’s summit to Ranupani! Sepanjang perjalanan menuju puncak (bukit), kami sempat beberapa kali berhenti. Ternyata dari sini puncak Mahameru terlihat cukup jelas.

Puncak Mahameru terlihat cukup jelas dari tanjakan
Akhirnya kami pun sampai di ‘puncak’. Setelah itu tak ada lagi tanjakan, yang ada hanya trek turunan. Pada trek ini, saya tidak bisa berjalan lambat, karena jika berjalan lambat maka akan terasa sangat lelah. Di trek ini saya lebih sering berlari, karena memang sangat sulit untuk berhenti. Rasanya kaki tidak bisa di-rem.

Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore, kami pun bergegas agar tidak terlalu gelap ketika sampai di Ranupani. Trek turunan pun sudah kami lewati, setelah itu kami harus melewati perkebunan warga untuk sampai ke Ranupani. Sebenarnya dari sini kami bisa saja menyewa ojek, yang hanya memakan waktu 10 menit. Karena setelah melewati turunan, banyak ojek yang sudah menunggu pendaki untuk menggunakan jasanya. Namun kami memilih untuk melanjutkan berjalan kaki, biar TOTALITAS!  Hehehe.

Action dulu kak, mumpung kamera masih nyala hihihi
Akhirnya kami pun tiba di Ranupani sebelum gelap. Rasanya masih tak percaya sudah menginjakkan kaki di gunung tertinggi di Pulau Jawa ini. Rasanya masih seperti mimpi. Alhamdulillah, sudah diberi kesempatan untuk ke sini. Lagi dan lagi, selalu ada keinginan untuk kembali. Semoga nanti diperkenankan lagi, amin :)

---

Cerita sebelumnya :
Menjejak Langkah Menuju Semeru
Dari Kalimati Sampai Ranu Kumbolo 

Comments