Menggapai Merapi, Menggapai Puncak Yogyakarta
Selama bertahun-tahun lamanya,
saya hanya bisa melihat puncak Merapi dari kejauhan ketika perjalanan menuju
Yogyakarta. Tempat tinggal yang tak jauh dari Jogja membuat saya sering
mengunjungi kota gudeg tersebut. Selama perjalanan, yang selalu terpikir dalam
benak saya adalah “apakah saya bisa
menggapai puncak Merapi?” Dalam hati saya berjanji, suatu saat akan
menjejakkan langkah menuju Merapi.
Menggapai Merapi adalah salah
satu “dream comes true” bagi saya.
Meskipun pada awalnya saya merasa sedikit ragu lantaran mengkhawatirkan hal
yang tidak-tidak, seperti hal-hal mistis yang pernah saya baca dari berbagai sumber
internet. Cepat-cepat saya menghapuskan kekhawatiran tersebut dari pikiran
saya.
![]() |
| Puncak Merapi dilihat dari Pasar Bubrah |
Berbekal informasi yang saya dapatkan dari teman dan berbagai sumber di internet, akhirnya saya dan dua orang teman berangkat ke basecamp Gunung Merapi di daerah Selo, Boyolali. Berdasarkan informasi yang saya dapatkan, terdapat alternatif lain untuk mendaki Merapi, yaitu di jalur Kinaharjo/Kaliurang. Hanya saja jalur Kinaharjo ditutup sementara sejak November 1995.
Pendakian kami mulai setelah
ibadah sholat maghrib, karena kami tiba di basecamp
Barameru tepat pukul 5 sore. Setelah melakukan beberapa persiapan, kami mulai
berjalan. Perjalanan dari basecamp
hingga Pos I menempuh waktu hingga 90 menit, diawali dengan melewati jalur
beraspal menanjak yang cukup membuat napas kami tersengal-sengal. Jalan
beraspal ini menjadi pembuka yang cukup sebagai peregangan otot. Setelah
melewati welcome sign bertuliskan “New Selo”,
jalur berubah menjadi jalan setapak dengan ladang penduduk di sisi kanan dan
kiri, yang kemudian didominasi dengan hutan pinus yang cukup lebat.
Sesampainya di Pos I, kami hanya
beristirahat sebentar karena udara yang cukup dingin. Maka mau tak mau kami
harus terus berjalan untuk menghangatkan tubuh. Menuju Pos II, waktu yang
ditempuh sekitar 90 menit. Pada perjalanan ini, trek didominasi dengan bebatuan
dan akar pohon yang menjulang. Beberapa kali kaki saya terbentur bebatuan besar
maupun akar pepohonan, yang membuat kaki menjadi sedikit memar.
![]() |
| Trek dengan kemiringan hampir 50 derajat! |
Dari Pos II hingga Watu Gajah,
perjalanan semakin terasa berat karena trek yang semakin curam. Selain itu,
bebatuan pun semakin banyak. Kami harus melangkah dengan sangat hati-hati,
karena bisa saja kami salah melangkah dan berakibat fatal. Perjalanan pada trek
ini kami tempuh selama sekitar 90 menit.
Selanjutnya kami tiba di Watu
Gajah, dimana tempat tersebut biasanya digunakan untuk mendirikan tenda. Karena
memang lokasi ini tertutup dengan bebatuan dan pepohonan sehingga aman jika
sewaktu-waktu terjadi badai. Karena belum terlalu larut, kami memutuskan untuk
melanjutkan perjalanan hingga Pasar Bubrah. Perjalanan hingga Pasar Bubrah menempuh
waktu 30-40 menit. Pada perjalanan ini, trek sudah sedikit landai meskipun
masih terdapat bebatuan.
![]() |
| Trek sebelum Pasar Bubrah masih didominasi pasir dan bebatuan |
Pukul 11 malam, akhirnya kami
tiba di Pasar Bubrah. Sepenglihatan saya, Pasar Bubrah seperti lapangan. Tidak
ada pepohonan yang melindungi dari angin, pun tidak ada tanah maupun rerumputan
yang menjadi alas tidur. Di Pasar Bubrah, yang ada hanyalah hamparan pasir dan bebatuan
yang sangat luas. Angin yang berhembus cukup kencang membuat kami harus
sesegera mungkin mendirikan tenda untuk melindungi diri dari angin. Setelah
menemukan tempat yang cocok untuk mendirikan tenda, dengan cepat kami bergerak
dan jadilah rumah kami untuk semalam.
Udara yang sangat dingin membuat
kami duduk rapat di dalam tenda sambil membuat minuman untuk menghangatkan
tubuh. Beberapa makanan ringan yang kami bawa dari rumah cukup mengganjal perut
kami hingga besok pagi. Malam itu kami tidur di bawah naungan langit malam yang
cerah. Di depan kami, sebuah gundukan batu raksasa berdiri dengan gagahnya.
Dialah sang puncak Yogyakarta!
Keesokan harinya kami terbangun
dengan kondisi yang masih kedinginan. Jujur, malam itu saya sulit tidur karena
udara yang sangat dingin. Bahkan sleeping
bag yang saya kenakan tidak cukup
menghalau dingin pada malam itu.
Pagi hari di Pasar Bubrah begitu
menawan. Hamparan pasir dan bebatuan seperti dijatuhi oleh sinar jingga dari
ufuk timur. Beberapa orang mulai keluar dari ‘kamar’-nya, kami pun
berjalan-jalan untuk menghangatkan tubuh. Kami sepakat untuk tidak mendaki
hingga puncak, karena dari kejauhan terlihat begitu banyak orang yang berjalan
menuju ke puncak. Kebetulan kami mendaki saat weekend dimana akan ada banyak orang di atas puncak Merapi, dengan
kondisi puncak yang langsung menjorok ke kawah. Because safety first!
![]() |
| Menjelajahi Pasar Bubrah |
Tanpa berputus asa, kami tetap
menikmati keelokan Pasar Bubrah dengan menjelajah hingga ke sudut-sudut Pasar
Bubrah. Pagi itu, setelah puas menikmati Pasar Bubrah, kami menyiapkan sarapan
dengan bahan seadanya yang kami bawa dari rumah. Pagi itu, meskipun belum
menggapai puncak Merapi, saya merasa telah menggapai puncak Yogyakarta, yang
biasanya selalu saya lihat dari kejauhan. Berat, capek, hingga memar-memar di
kaki terbayarkan dengan kelegaan atas rasa penasaran yang saya rasakan selama
ini.






Seru sekali gan..
ReplyDeleteSewa Mobil Jogja