Menggapai Puncak Merbabu, Menikmati Terjalnya Suwanting
Berawal dari
obrolan lewat aplikasi messenger,
saya ditantang untuk mendaki Gunung Merbabu. Tanpa berpikir panjang saya langsung
mengiyakan ajakan tersebut. Walau setelah itu rasa panik kemudian muncul. Bisa
nggak ya? Kuat nggak ya? Apalagi rencananya kami akan mendaki lewat jalur
Suwanting yang katanya dua kali lebih berat daripada jalur lainnya. “Full ndaki,
nggak ada bonusnya!” tutur salah seorang teman. Ditambah lagi saat itu sedang
musim hujan.
![]() |
| Sabana Merbabu yang berkabut |
Jalur Suwanting memang berbeda dari jalur lainnya, treknya cukup berat, namun jalur ini memiliki sumber air sehingga pendaki tidak harus membawa banyak air dari basecamp. Setidaknya dapat mengurangi beban pendaki.
Berbekal prinsip
‘you only live once’, saya nggak mau
menyia-nyiakan kesempatan ini. Akhirnya saya mantap untuk ikut mendaki ke
Merbabu, meskipun pada akhirnya hanya 4 orang yang ikut mendaki dari sebelumnya
8 orang. Kebetulan beberapa teman sudah pernah mendaki Merbabu, bahkan di
antaranya sudah lebih dari sekali. Sehingga mengurangi kekhawatiran saya akan
terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.
Rencananya kami
akan memulai pendakian pada sore hari, sehingga tidak terlalu malam ketika
sampai di Pos 3. Namun karena hujan deras sejak siang hari, kami baru bisa
memulai pendakian pada pukul 8 malam. Setelah registrasi, kami segera
bersiap-siap. Meskipun hujan sejak siang hari, beruntung malam harinya cuaca
Merbabu cukup bersahabat.
Basecamp - Pos 1
Perjalanan dari bacecamp menuju Pos 1 terbilang cukup
landai, dengan durasi perjalanan sekitar 1 jam. Melewati ladang penduduk,
kemudian masuk melewati hutan pinus. Selama perjalanan kami dapat melihat
Merapi dengan cukup jelas, juga beberapa kota dan kabupaten yang mengelilingi
Gunung Merbabu. Setelah itu sampailah kami di Pos 1, Lembah Lempong. Di sini
kami memutuskan untuk tidak berlama-lama break.
![]() |
| Merapi terlihat sangat jelas |
Pos 1 - Pos 2
Perjalanan
berikutnya semakin menanjak. Hujan sejak siang hari membuat trek menjadi licin
dan terasa berat. Dalam perjalanan
menuju Pos 2, kami melewati Lembah Gosong, Lembah Cemoro, Lembah Ngrijan, dan
berakhir di Lembah Mitoh sebelum sampai di Pos 2. Setelah perjalanan terjal
selama kurang lebih 2 jam, akhirnya kami sampai di Pos 2, atau yang biasanya
disebut selter bendera.
Rencana awal
kami akan camp di Pos 3 karena dekat
dengan Pos Air. Namun ketika sampai di Pos 2, kami memutuskan untuk mendirikan
tenda karena mata sudah terasa berat. Setelah mendirikan tenda, kami membuat
minuman hangat dan makanan ringan untuk mengganjal perut. Saya pun pamit tidur
lebih dulu, sementara teman-teman lain masih bercengkerama sambil minum kopi.
Pos 2 - Pos 3
Pukul 4 pagi
kami sudah siap untuk melanjutkan perjalanan menuju Pos 3. Perjalanan dimulai
dengan melewati Lembah Manding. Saat melewati Lembah Manding, kita dilarang
untuk mengeluh atau mengucapkan kata-kata kasar. Trek menuju Pos 3 tidak ada
bonus, terjal, dan sempit. Seringkali kami berhenti karena saya merasa
tersengal-sengal.
![]() |
| Pos Air sebelum Pos 3 |
Tepat pukul 6
pagi, kami tiba di Pos Air. Di sini kami cukup lama menghabiskan waktu.
Sementara teman-teman cuci muka dan bersih-bersih, saya sibuk sarapan dengan
bekal yang kami bawa. 30 menit kemudian kami tiba di Pos 3. Berhenti sebentar
untuk berfoto, kemudian melanjutkan perjalanan menuju Puncak Suwanting.
![]() |
| Pos 3 dengan latar belakang Gunung Merapi |
Pos 3 - Puncak Trianggulasi
Menuju Puncak
Suwanting, perjalanan terasa semakin berat. Sesekali saya berhenti untuk
melihat gagahnya Merapi. Tidak mau kehilangan momen, saya pun berfoto dengan
latar belakang Gunung Merapi. Akhirnya setelah perjalanan yang cukup berat,
pukul 9 pagi kami tiba di Puncak Suwanting. Dari Puncak Suwanting, kita dapat
melihat sabana yang kami lewati sebelum sampai puncak, juga sabana yang
berbentuk punggungan.
![]() |
| Sabana yang berbentuk punggungan |
![]() |
| Ekspresi bahagia, terharu, capek. Maap ya, dekil wkwk |
Sekitar pukul 10
pagi, akhirnya kami tiba di Puncak Trianggulasi. Terharu, akhirnya bisa
menginjakkan kaki di Puncak Merbabu. Bahagia yang tidak bisa diungkapkan dengan
sebuah ucapan. Akhirnya terealisasi sudah keinginan saya untuk mendaki Merbabu. Semoga suatu saat nanti bisa kembali mendaki Merbabu sampai ke puncak-puncak lainnya.








Comments
Post a Comment