Secuil Afrika di Ujung Timur Pulau Jawa
Dikenal sebagai
Africa Van Java, Taman Nasional Baluran menjanjikan eksotisme alam yang tak
terlupakan. Sebagai salah satu destinasi impian para wisatawan, Baluran
memiliki sabana yang menjadi primadona. Tak hanya itu, taman nasional yang
terletak di Kabupaten Situbondo ini pun memiliki pantai dan hutan mangrove.
![]() |
| Savana Bekol, primadona Taman Nasional Baluran |
Untuk sampai di Taman Nasional Baluran, kami menyewa sepeda motor di dekat Stasiun Karangasem pada malam sebelumnya ketika kami sampai di Banyuwangi. Dengan 75 ribu rupiah, kami sudah dapat menggunakan sepeda motor untuk satu hari. Sepeda motor tersebut yang nantinya juga akan kami gunakan untuk menjelajahi Banyuwangi dalam tiga hari ke depan.
![]() |
| Sepeda motor yang kami sewa |
Esok paginya
seusai sarapan, kami memulai perjalanan menuju Baluran. Tidak sulit untuk
menemukan Baluran. Karena kami menginap di masjid dekat Pelabuhan Ketapang,
kami tinggal mengikuti jalan menuju arah Situbondo.
Tiba di Baluran,
kami sempat dibuat heran dengan gerbang masuk Taman Nasional Baluran yang jauh
dari kesan ‘wilderness’. Setelah
sedikit bertanya dengan penduduk setempat, akhirnya kami masuk ke dalam dan
melakukan registrasi. Di tempat registrasi inilah kentara terasa ‘hutan
belantara’, seperti pada artikel yang pernah saya baca.
Setelah
melakukan registrasi dan pembayaran 5 ribu rupiah per kepala, kami melanjutkan
perjalanan. Tas dan carrier yang berat sengaja kami tinggalkan di tempat
registrasi. Petugas taman nasional pun tak keberatan, beliau mempersilakan kami
meletakkan barang bawaan di dekat meja registrasi. Syaratnya barang-barang
berharga harus dibawa.
Welcome to the Jungle!
Adalah
Evergreen, yang dikenal sebagai surganya kupu-kupu di Taman Nasional Baluran.
Sayangnya ketika memasuki area Evergreen, kami tak banyak menemukan kupu-kupu.
Melewati Evergreen seakan sedang melewati hutan belantara dengan pepohonan
hijau yang rindang. Area ini selalu tampak hijau dan tak pernah mengalami
kekeringan.
Semakin lama
berjalan, jalanan yang kami lewati semakin tak beraturan. Mengendarai sepeda
motor di Baluran membuat kami harus pandai-pandai menjaga keseimbangan.
Teriknya
matahari semakin terasa ketika kami memasuki area sabana yang dikenal dengan
nama Bekol. Tak dapat dipungkiri jika Bekol tidak dapat dipisahkan dari daya
tarik Baluran. Saat musim kemarau seperti ini, Bekol terlihat begitu gersang.
Gersangnya Bekol menambah kesan ‘Afrika’ yang selama ini menjadi julukan bagi
Taman Nasional Baluran.
![]() |
| Sekumpulan satwa di Savana Bekol |
Melihat
sekumpulan kerbau yang sedang merumput, kami mempercepat laju sepeda motor.
Dari arah yang tak terlalu jauh, kerbau-kerbau tersebut menjadi spot foto yang
menarik. Selain kerbau, di area ini juga terdapat kehidupan satwa liar seperti
rusa, burung merak, dan ayam hutan. Setidaknya satwa-satwa tersebut yang kami jumpai
ketika melewati Savana Bekol.
Tak hanya padang
sabana yang bagaikan di Afrika, Bekol pun memiliki menara pandang. Dari atas
menara pandang, kami menyaksikan Baluran dari ketinggian. Padang sabana,
pegunungan, dan satwa-satwa liar pun terlihat cukup jelas.
![]() |
| View Baluran dari atas gardu pandang |
Berteduh di Pantai Bama
Puas menikmati
padang sabana, kami melanjutkan perjalanan. Menyusuri Bekol hingga habis,
terdengar riuh redam suara ombak. Tak lama kemudian kami tiba di Pantai Bama.
Ombak yang tenang, air laut yang biru, dan pepohonan yang rindang menjadi
kombinasi yang sangat pas sebagai penawar lelah. Teriknya Bekol terbayar dengan
heningnya Pantai Bama yang seolah-olah memahami apa yang dirasakan
pengunjungnya.
Setelah
beribadah, kami menelusuri hutan mangrove yang berada tak jauh dari Pantai
Bama. Memiliki pepohonan yang rindang, hutan mangrove membuat siapa
saja menjadi betah berlama-lama.
![]() |
| Hutan mangrove yang berbatasan langsung dengan laut lepas |
Menyusuri hutan
mangrove hingga ke ujung, kami menemukan jembatan kayu yang menjadi penghubung
antara hutan mangrove dengan laut lepas. Di ujung jembatan terdapat sebuah
pondokan yang teduh. Tanpa aba-aba, kami segera berjalan menuju pondokan,
mengingat cuaca yang sangat terik pada siang itu. Di pondokan ini kami cukup
lama menghabiskan waktu, menikmati laut lepas dengan angin sepoi-sepoi sembari
berbagi cerita.
HOW TO GET BALURAN?
1. Turun di Stasiun
Karangasem, menginap di rumah singgah backpacker Banyuwangi. Pagi harinya
menyewa sepeda motor (Rp 75.000/hari), berkendara menuju arah Situbondo (± 2
jam).
2. Turun di Stasiun
Banyuwangi, berjalan keluar ke arah jalan raya. Menginap di masjid dekat
Pelabuhan Ketapang (bayar seikhlasnya untuk infaq). Alternatif lain bisa
menginap di homestay dekat Stasiun
Banyuwangi. Pagi harinya menuju Terminal Sri Tanjung dengan menggunakan
angkutan umum, kemudian menumpang bus tujuan Surabaya. Setibanya di Baluran
bisa menyewa sepeda motor yang banyak disewakan oleh warga setempat (Rp
100.000/hari).







Mbak pantai disana mangrove ya?kalo buat mandi lucu lucu brapa jauh?
ReplyDeletesebelahan kok is, lokasinya ga jauh
DeleteWah, sudah dari dulu saya pengen skali ke Baluran, dan emang bener tempatnya bener2 bagus, serasa di Afrika. x)
ReplyDeleteNice post, btw! Salam kenal!
Cheers,
Novreica | http://cnovreica.blogspot.co.id
Daaaann bagusnya pas musim kemarau, jadi berasa bener-bener lagi di Afrika hihihi.
DeleteSalam kenal juga, Novreica! :)