Menahan Kantuk di Kawah Ijen

Sore hari setelah seharian menghabiskan waktu di Taman Nasional Baluran, kami kembali ke Banyuwangi untuk istirahat sejenak sebelum memulai perjalanan menuju perbatasan Kabupaten Bondowoso dan Kabupaten Banyuwangi. Kawah Ijen!

View kawah dengan warna hijau tosca

Perjalanan ke Kawah Ijen sebaiknya dimulai pada dini hari agar dapat menyaksikan fenomena blue fire, yang konon katanya hanya ada dua di dunia, dan salah satunya ada di Indonesia. Untuk itu kami memulai perjalanan pukul 8 malam.

Blue fire, si api biru yang konon katanya hanya ada dua di dunia
Untuk menuju Kawah Ijen, kami menggunakan sepeda motor yang kami sewa pada hari sebelumnya. Perjalanan dimulai dari Banyuwangi menuju Bondowoso. Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju Paltuding, yang memakan waktu ±2 jam, dengan kondisi jalan yang terbilang cukup baik.

Setelah berkendara dan menahan hawa dingin selama perjalanan, akhirnya kami tiba di Paltuding. Paltuding merupakan pos polisi hutan, sekaligus tempat untuk melakukan registrasi sebelum memulai pendakian. Selain memiliki area parkir yang luas, Paltuding pun dilengkapi berbagai fasilitas seperti toilet dan mushala. Selain itu, ada pula warung makan yang berjejer rapi di tepi jalan.

Waktu menunjukkan pukul 10 malam, masih terlalu dini untuk memulai pendakian. Normalnya waktu pendakian dimulai pada pukul 1 dini hari. Karena tidak berencana untuk menginap, kami memilih untuk beristirahat di warung di sekitar pos pantau. Sambil menunggu loket pendaftaran dibuka, kami memesan kopi dan sedikit camilan untuk menghangatkan diri.

Udara yang sangat dingin membuat kami tidak dapat memejamkan mata, padahal rasa kantuk sudah begitu lama ditahan. Dari kejauhan samar-samar kami mendengarkan sekumpulan orang yang sedang berbincang. Ternyata suara berasal dari camping ground yang telah disediakan oleh pengelola. Selain menginap di homestay, pengunjung dapat juga mendirikan tenda dengan membayar retribusi.

Tepat pukul 1 dini hari, loket pendaftaran dibuka. Kami pun mengantri untuk mendapatkan tiket dengan harga Rp 5000 per pengunjung. Dari Paltuding, kami harus melakukan pendakian selama 2-3 jam. Kondisi trek berpasir dengan kemiringan hingga 35 derajat, mengharuskan kami untuk berjalan dengan hati-hati dan tidak terburu-buru.

Sepanjang perjalanan menuju Kawah Ijen, kami dilanda rasa kantuk yang hebat. Kami harus berhenti beberapa kali untuk beristirahat, sembari mengembalikan energi yang hilang akibat kantuk. Seharian di Baluran dan dilanjutkan berkendara ke Kawah Ijen membuat kami tak memiliki waktu untuk tidur walaupun hanya sejenak.

Sekitar pukul 4 pagi, kami tiba di bibir kawah. Dari kejauhan, si api biru yang kami cari tidak terlihat. Ternyata untuk menyaksikan blue fire, kami harus turun ke bawah kawah dengan trek yang cukup curam. Selain curam, trek ini juga sangat ramai karena dipadati oleh pengunjung dan penambang belerang. Bersaing dengan pengunjung lain, kami lebih mendahulukan para penambang belerang. Rasanya tak tega melihat penambang membawa beban hingga 80 kg, mengangkut belerang dari dasar kawah.

Trek turunan menuju dasar kawah
Setelah berjalan menurun kurang lebih 30 menit, akhirnya kami dapat menyaksikan blue fire secara langsung. Dari dalam kawah ini, bau belerang sangat menyengat. Sehingga tidak disarankan untuk berlama-lama di bawah. Kami beruntung, meskipun dengan jarak yang tidak terlalu dekat, kami sampai tepat waktu sehingga tidak kehilangan momen yang selama ini kami incar.

Langit yang gelap pun berangsur terang. Kami memutuskan untuk segara naik ke bibir kawah. Dari bibir kawah, kami dapat melihat orang-orang di dasar kawah dari kejauhan. Kami baru menyadari, ternyata dini hari tadi kami turun ke bawah cukup dalam dan jauh.

View dari bibir kawah
Bibir kawah yang dipadati sejumlah pengunjung
Di atas bibir kawah, kami menyaksikan warna hijau tosca sambil menahan kantuk yang tak tertahankan. Kami beruntung saat itu kawah terlihat sangat jelas dengan warna hijau tosca yang begitu indah. Tanpa aba-aba kami pun mengeluarkan seperangkat kamera lengkap dengan senyum lebar dan mata berkantung.

HOW TO GET KAWAH IJEN?
1. Belum ada transportasi umum dari Banyuwangi menuju Paltuding, sehingga harus menyewa sepeda motor (Rp 75.000/hari) atau jeep kapasitas 7 orang (Rp 600.000). Perjalanan dimulai dari kota Banyuwangi melewati Wonosari, kemudian menuju Sempol, Bondowoso. Dari daerah Sempol, perjalanan dapat dilanjutkan menuju Paltuding.
2. Usahakan untuk tidur sebentar sebelum memulai pendakian. Jika tidak membawa tenda untuk didirikan di camping ground, bisa juga menyewa kamar di homestay yang banyak tersedia di sekitar Paltuding. Berjalan mendaki sambil menahan kantuk sangat menganggu!
3. Jangan lupa untuk membawa penutup hidung, kaca mata, dan alas kaki yang nyaman. Karena selama perjalanan mendaki hanya ada trek berpasir.
4. Ketika menuju kawah, dahulukan para penambang belerang yang hendak turun ke dasar kawah atau naik ke bibir kawah. Ingat, beban yang mereka bawa sangat berat!

Comments

  1. indahnya kawah ijen, aku belum sempet2 nih main kesana,

    katanya pendakiannya mudah ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. susah-susah gampang sih, yang bikin susah karena treknya pasir gitu

      Delete
    2. kata temen saya sih mudah kalau dibanding gunung lainnya

      Delete
    3. iya kak, durasi mendakinya nggak selama mendaki gunung lain, tapi pasirnya yang bikin agak sulit

      Delete

Post a Comment

Popular Posts