Tertambat Pesona Karimunjawa, Keindahannya Membuat Susah Lupa

“Sudah sampai, mbak, mas. Dari sini bisa naik taksi atau becak. Bisa jalan kaki juga, tapi lumayan jauh,” ujar kernet bus kecil yang kami tumpangi. 

Sore itu, akhirnya kami menginjakkan kaki di kota kelahiran Raden Ajeng Kartini, Jepara. Sebelumnya kami bertolak dari Solo menuju Jepara saat menjelang siang. Dengan terlebih dahulu transit di Terminal Terboyo Semarang, kami melanjutkan perjalanan dengan menggunakan bus kecil menuju Jepara.

Lanskap dari atas Bukit Love Karimunjawa

Setelah mengucapkan terimakasih kepada kernet bus yang kami tumpangi, kami segera bersiap-siap menuju Pelabuhan Kartini. Sesuai jadwal, kapal cepat yang akan membawa kami ke Karimunjawa berangkat keesokan harinya. Sembari menunggu pagi, kami beristirahat di pelabuhan. Kebetulan, salah seorang pemilik warung di pelabuhan berbaik hati pada kami. Beliau mempersilakan kami untuk beristirahat di kedai miliknya.

Saat itu, kapal feri menuju Karimunjawa dan sebaliknya sedang tidak beroperasi lantaran sedang ada perbaikan. Terpaksa kami menumpang kapal cepat yang biayanya kurang ramah di kantong, namun bisa dengan cepat mengantar kami ke surga kecil di Laut Jawa, Pulau Karimunjawa. Rasa penasaran pun menyergap perasaan, seperti apa keindahan Karimunjawa yang akhir-akhir ini menjadi buah bibir banyak orang?

Mengagumi Karimunjawa dari Ketinggian

Pagi menjelang siang, kapal cepat yang membawa kami dari Pelabuhan Kartini Jepara menuju Karimunjawa telah bersandar di Pelabuhan Karimunjawa. Satu per satu penumpang turun, melewati dermaga, kemudian mulai merencanakan destinasi mana yang akan dituju. Tak sedikit pula yang sibuk dengan barang bawaannya. Barang-barang tersebut merupakan hasil belanja di Jepara yang akan dijual lagi di Karimunjawa. 

Salah satu penduduk Karimunjawa berkata pada kami, ketika kapal feri tidak beroperasi, mereka akan kesulitan mendapatkan bahan-bahan pokok. Itu sebabnya mereka terpaksa memanfaatkan kapal cepat yang biayanya lebih mahal. Atau lebih ekstrim lagi, mereka menggunakan perahu nelayan. Dengan menggunakan perahu kecil tersebut, mereka harus siap-siap dihantam ombak kapanpun.

Setelah menyantap makan siang, kami berdiskusi ke mana pergi untuk selanjutnya. Beruntung, salah satu kawan saya pernah bertualang di pulau yang memiliki luas daratan mencapai 1.500 hektar ini. Sehingga kami tidak terlalu pusing untuk memikirkan destinasi mana yang akan kami tuju. Dengan senang hati, kami memutuskan untuk menuju Pantai Tanjung Gelam. Di pantai inilah rencananya kami mendirikan tenda untuk semalam.


Pantai Tanjung Gelam, tempat menginap selama semalam
Dari Pelabuhan Karimunjawa menuju Pantai Tanjung Gelam memakan waktu 15 menit dengan melewati jalan beraspal. Setelah tiba, bukannya pantai yang kami lihat, melainkan pohon-pohon yang berjejer. Kata penduduk sekitar, untuk mencapai pantai harus berjalan sekitar 50 meter.

Setelah mencari lokasi yang cocok untuk mendirikan tenda, kami pun secara gotong royong memasang frame hingga menambatkan pasak di tiap sisi tenda. Sambil beristirahat, kami pun menunggu matahari tenggelam ditemani suara ombak. Konon katanya pantai yang terletak di ujung barat Pulau Karimunjawa ini merupakan salah satu lokasi sunset view terbaik di Karimunjawa.

Keesokan harinya kami memutuskan untuk menjelajahi daratan Karimunjawa. Destinasi pertama adalah Bukit Love Karimunjawa, rekomendasi kenalan kawan saya yang merupakan penduduk asli Karimunjawa. Katanya dari atas bukit ini akan terlihat pemandangan laut.

Pemandangan perairan Karimunjawa dari atas Bukit Love
Berlokasi di Dusun Jatikerep, Bukit Love Karimunjawa dikelola secara swadaya oleh penduduk sekitar. Bukit ini menjadi lokasi yang wajib disinggahi saat melakukan tur darat di Karimunjawa. Tarifnya cukup terjangkau, Rp 10 ribu termasuk sebotol soft drink yang diberikan secara cuma-cuma. Selain dapat memandangi laut dari ketinggian, di atas bukit inipun terdapat tulisan “LOVE” dan “KARIMUNJAWA” yang menjadi spot foto favorit oleh pengunjung.


Dari atas menara hutan mangrove dapat melihat rimbunnya pepohonan
Selanjutnya kami beralih ke hutan mangrove yang terletak di bagian utara Karimunjawa. Sepanjang 1,3 kilometer, kami menikmati rimbunnya hutan mangrove dengan melewati jalur trekking yang terbuat dari papan kayu. Dengan luas mencapai 222 hektar, hutan mangrove ini memiliki 45 jenis flora yang tumbuh menyebar di berbagai titik. Tak hanya itu, hutan rimbun yang menjadi bagian dari Desa Kemujan ini juga memiliki sebuah menara. Dari atas menara setinggi 20 meter tersebut, panorama Pulau Karimunjawa terlihat sangat jelas.

Mengeksplor Perairan Karimunjawa

Mustahil berada di Karimunjawa jika tidak mengeksplor pulau-pulau di sekitarnya. Kami lebih memilih melakukannya sendiri tanpa mengikuti tur yang menjamur di setiap sudut Karimunjawa. Dengan island hopping sendiri, kami dapat menjelajahi pulau-pulau tanpa harus dibatasi oleh waktu.

Kepada nahkoda kami mengatakan ingin mengunjungi Pulau Cilik karena iming-iming dermaga cantik yang kami lihat pada search engine Google. Akhirnya sauh pun diangkat, kapal kayu siap membawa kami bertualang dalam negeri dongeng. Saat berada di tengah laut, nahkoda pun menawarkan kepada kami untuk singgah di Pulau Gosong. Kami pun mengangguk tanda mengiyakan tawaran nahkoda kapal.

Pulau Gosong yang hanya dapat disinggahi saat air laut surut
Pulau Gosong merupakan gundukan pasir berwarna putih yang hanya ada ketika laut surut. Luasnya tak lebih dari 50 meter persegi. Jika laut sedang pasang, Pulau Gosong tak akan terlihat karena digenangi oleh air. Beruntung saat kami melewati Pulau Gosong, air sedang surut. Sehingga kami dapat menginjakkan kaki di atas pulau unik ini.

Kami pun melanjutkan perjalanan ke Pulau Cilik. Kata nahkoda kapal, Pulau Cilik tak terlalu jauh dari Pulau Gosong yang kami singgahi. Ternyata benar, tak lama kemudian pulau yang kami tuju mulai nampak. Setelah kapal merapat pada bibir dermaga, kami bersiap-siap untuk turun ke dermaga. Ikan-ikan dan terumbu karang yang cantik membuat kami tergoda untuk melakukan snorkeling.


Snorkeling di perairan dekat dermaga Pulau Cilik
Menjelang sore, nahkoda meminta kami segera naik ke atas kapal. Beliau menawarkan kepada kami untuk singgah di Pulau Menjangan Kecil. Kabarnya pulau yang berbatasan dengan Pulau Menjangan Besar ini merupakan salah satu spot menyelam populer di Karimunjawa.


Dermaga di Pulau Menjangan Kecil
Ketika perjalanan, sempat terjadi hujan lebat disertai ombak cukup yang besar. Saat kami tiba di Pulau Menjangan Kecil, sisa-sisa hujan pun masih terasa. Akibatnya arus yang cukup kuat membuat kami membatalkan rencana untuk snorkeling. Kami pun memutuskan untuk jalan-jalan mengitari pulau dengan luas 46 hektar ini. Beberapa resort terlihat sedang dalam proses pembangunan saat kami melintasi jalan setapak.

Island hopping pada hari itu berakhir di Pulau Menjangan Kecil. Ternyata benar kata orang selama ini, Karimunjawa memang membuat susah lupa. Tanpa harus merogoh kocek cukup dalam, Karimunjawa dan seisinya berhasil membuai kami dengan kekayaan alam yang ada di dalamnya.

*Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Visit Jawa Tengah 2016 yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah @VisitJawaTengah.

Comments

  1. pengen ke tempat ini tapi masih belum bisa kesampaian

    ReplyDelete
  2. Menunggu sunset di Bukil Love, Bukit Joko Tuwo, atau di Mangrove Kemujan itu indah banget :-D
    Sesekali exlpore daerah Kemujan, ada banyak pantai indah juga di sana.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukit Joko Tuwo itu di sebelah mana ya kak? kemarin pas ke Karimun nggak nemu

      Delete
  3. Wow, luar biasa banget Karimunjawa ini, jernih banget airnya. Ngileeer

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts