Kisah Rambut Gimbal Sewaktu Hujan di Dieng
Bagi masyarakat Dieng, jumlah
anak yang memiliki rambut gimbal memiliki korelasi dengan kesejahteraan
masyarakat. Semakin banyak jumlah anak berambut gimbal yang ada di Dieng, artinya
kesejahteraan masyarakat semakin baik. Begitu pula sebaliknya.
Tak sulit untuk menemukan anak-anak Dieng dengan rambut gimbal, karena setiap anak yang memiliki garis keturunan Dieng akan berpotensi terlahir dengan rambut gimbal. Menurut informasi, rambut gimbal mulai tumbuh ketika seorang anak memasuki usia belum genap 3 tahun. Setelah itu rambut gimbal akan tumbuh semakin lebat hingga akhirnya dipotong melalui prosesi khusus.
Tak sulit untuk menemukan anak-anak Dieng dengan rambut gimbal, karena setiap anak yang memiliki garis keturunan Dieng akan berpotensi terlahir dengan rambut gimbal. Menurut informasi, rambut gimbal mulai tumbuh ketika seorang anak memasuki usia belum genap 3 tahun. Setelah itu rambut gimbal akan tumbuh semakin lebat hingga akhirnya dipotong melalui prosesi khusus.
![]() |
| Telaga Warna |
Dalam tradisi masyarakat Dieng, pemotongan rambut gimbal bukan merupakan sembarang prosesi. Masyarakat Dieng percaya bahwa prosesi pemotongan rambut gimbal harus melalui upacara tertentu dan harus atas dasar kemauan si anak. Konon jika rambut gimbal tidak dipotong melalui ritual khusus, maka si anak akan jatuh sakit dan dipercaya akan mendatangkan bencana bagi orang-orang di sekitarnya.
Itulah mengapa prosesi
pemotongan rambut gimbal dalam rangkaian Dieng Culture Festival selalu menjadi
salah satu acara yang dinanti-nanti. Selain karena keunikan budayanya, prosesi
pemotongan rambut gimbal juga menjadi menarik karena lokasi ritualnya berada di
Kompleks Candi Arjuna.
Telaga Warna dan Kalung Putri
Kerajaan
Hujan menyambut ketika kami masih
dalam perjalanan menuju Dieng. Saat itu, bus yang kami tumpangi dari Wonosobo
baru saja memasuki Jalan Raya Dieng. Ya, saya bersama seorang kawan, Mbak Juli,
sedang melakukan duo-traveling di surga atas awan Jawa Tengah, Dataran Tinggi
Dieng. Saat itu yang bisa kami lakukan hanya berharap ketika sampai hujan tak
lagi mengguyur.
Bus yang kami tumpangi akhirnya
memasuki kawasan Dataran Tinggi Dieng yang ditandai dengan banyaknya kios-kios
penjual buah carica di sisi kanan dan kiri jalan. Carica merupakan kerabat
pepaya yang hanya tumbuh di dataran tinggi yang basah, Dieng salah satunya.
Secara administratif, Dieng berada di perbatasan Kabupaten Wonosobo dan
Kabupaten Banjarnegara. Letaknya yang berada di sebelah barat Gunung Sindoro
dan Sumbing membuat kedua gunung tersebut selalu nampak saat momen matahari
terbit di kawasan ini.
Kepada kernet bus, sebelumnya
kami mengatakan akan turun di terminal Dieng. Butuh sekitar 60 menit dari
Wonosobo untuk benar-benar sampai di terminal Dieng. Jangan bayangkan terminal
besar berisi banyak bus, terminal di Dieng hanya sebuah lahan kecil berisi
sejumlah toko yang menjual oleh-oleh khas Dieng. Biasanya bus yang menuju dan
meninggalkan Dieng akan berhenti di tempat ini untuk nenaikkan atau menurunkan
penumpang.
Kami turun tepat di pertigaan
Dieng. Di persimpangan ini, selalu ramai karena terdapat sejumlah warung mie
ongklok, toko oleh-oleh, dan beberapa homestay. Dari pertigaan Dieng kami harus
berjalan beberapa meter menuju tempat persewaan sepeda motor yang sebelumnya
sudah kami pesan. Untuk menjelajahi Dieng kami lebih memilih menyewa sepeda
motor karena akan lebih efisien dan fleksibel.
Keberuntungan memang belum
berpihak pada kami, sebelum tiba di tempat persewaan sepeda motor, hujan
kembali mengguyur Dieng. Cepat-cepat kami berlari ke arah yang telah ditentukan,
ternyata rumah si pemilik motor sudah ada di depan kami.
"Diminum mbak, nunggu hujan
reda dulu," begitu kata ibu si pemilik sepeda motor sambil menempatkan teh
panas di hadapan kami. Hawa dingin Dieng pun terhalau dengan kehangatan beliau,
selain karena adanya penghangat buatan dalam ruangan tersebut. Tanpa penghangat
ruangan, suhu udara di Dieng dapat mencapai 14 derajat celcius atau bahkan
kurang. Tak heran jika kami merasa kedinginan saat berjalan kaki menuju tempat
persewaan motor.
![]() |
| Telaga Warna saat gerimis |
Menjelang tengah hari, hujan tak
lagi deras mengguyur Dieng. Kami pun bersiap-siap menjelajahi kawasan vulkanik
yang telah lama menjadi destinasi favorit untuk menghabiskan akhir pekan ini.
Selain mendaki Gunung Prau, destinasi pertama yang selalu dikunjungi wisatawan
adalah Telaga Warna.
Berada pada ketinggian 2.000
meter di atas permukaan laut, Telaga Warna siang itu dihujani kabut yang cukup
tebal. Air telaga yang berwarna biru toska pun berpadu dengan kabut yang mistis
sehingga menjadi lukisan Tuhan paling indah siang itu. Konon, warna-warna
cantik pada Telaga Warna berasal dari kalung seorang putri kerajaan yang
sengaja membuang kalung tersebut. Entah mitos atau bukan, nyatanya Telaga Warna
memang cantik jelita seperti putri kerajaan.
Gerimis, Kabut, dan Deretan Candi
Meskipun hujan masih mengguyur,
tak memudarkan semangat kami untuk menjelajahi Dieng. Setelah puas menghabiskan
waktu di Telaga Warna, kami pun segera beranjak menuju Kompleks Candi Arjuna.
Tak sulit menemukan Candi Arjuna, karena banyak plang penunjuk yang telah
disediakan. Dari pertigaan Dieng, Candi Arjuna dapat dicapai hanya 5 menit menggunakan
kendaraan bermotor. Dengan luas mencapai 1 hektar, candi Hindu ini menjadi
saksi ritual pemotongan rambut gimbal dalam rangkaian acara Dieng Culture
Festival.
![]() |
| Pengunjung Candi Arjuna |
Siang itu, meskipun gerimis dan
bukan bertepatan dengan ritual pemotongan rambut gimbal, namun Candi Arjuna
tetap ramai pengunjung. Deretan candi, kabut, dan gerimis menjadi latar saat
kami menjelajahi candi yang merupakan candi tertua di Pulau Jawa tersebut. Hal
ini diperkuat dengan ditemukannya sebuah prasasti dengan aksara Jawa kuno
dengan tahun 731 Caka atau 809 Masehi.
![]() |
| Candi Arjuna sedang dalam proses pemugaran |
Saat ini, Kompleks Candi Arjuna
dikelola dengan baik oleh Pemerintah Kabupaten Banjarnegara. Hal ini terlihat
dari penataan dan kebersihan kompleks candi yang berada pada ketinggian 2.093
meter di atas permukaan laut tersebut. Saat kami tiba, candi sedang dalam
proses pemugaran dengan sejumlah kayu berada di sisi candi. Meskipun begitu,
Candi Arjuna tetap terlihat kontras di antara hijaunya rumput di kawasan candi.
![]() |
| Candi Setyaki |
Berjalan melewati jalan setapak
ke arah kanan, kami menemukan Candi Setyaki yang tak kalah megah dibandingkan
Candi Arjuna. Dari struktur bangunan, Candi Setyaki tak jauh berbeda dari Candi
Arjuna yang terletak di depan kompleks. Dengan alas berbentuk persegi, Candi
Setyaki berbentuk mengerucut ke atas. Semakin tinggi maka semakin kecil
ukurannya. Hal ini sesuai dengan bentuk candi Hindu yang terbagi menjadi 3
tingkatan, yaitu bhurloka (dasar candi), bhuvarloka (bagian tengah), dan
swarloka (atap candi).
Puas melihat kemegahan Candi
Setyaki, kami berbalik arah menuju candi utama dan terus berjalan melewati
jalan setapak yang dihiasi rimbunnya pohon cemara. Di ujung jalan setapak, ternyata
terdapat Museum Kailasa. Dalam museum ini menyimpan beberapa peninggalan berupa
arca. Selain peninggalan sejarah, kompleks museum ini juga terdapat teater
kecil tempat memutar film-film pendek.
![]() |
| Kawasan sekitar Museum Kailasa |
Puas berkeliling, kami pun
kembali melewati jalan setapak dan kompleks candi utama untuk menuju tempat
parkir. Saat melewati Candi Arjuna, pengunjung semakin ramai mamadati kawasan
ini. Selain karena hari yang beranjak sore, langit pun mulai cerah lantaran
awan mendung yang sudah sedikit terhalau matahari.
Kunjungan ke Kompleks Candi
Arjuna sore itu menjadi penutup perjalanan kami pada hari itu. Kami pun kembali
ke tempat persewaan motor untuk mengambil barang yang kami titipkan. Untuk
menginap, malam itu kami menumpang pada sebuah homestay dekat pertigaan Dieng.
HOW TO GET THERE?
1. Dari Solo menggunakan travel
menuju Wonosobo, turun di Alun-alun Wonosobo untuk kemudian naik bus menuju
Dieng. Kalau tiba di Wonosobo saat malam hari, disarankan menginap semalam di
Wonosobo. Bus menuju Wonosobo-Dieng hanya ada sampai maksimal jam 4 sore.
2. Menginap semalam di Wonosobo,
pagi harinya menuju Alun-alun Wonosobo untuk naik bus menuju Dieng. Bus menuju
Dieng biasanya akan menaikkan penumpang di Alun-alun Wonosobo, tapi setiap
Minggu akan menaikkan penumpang di Jl. Masjid karena jalan di Alun-alun
Wonosobo ditutup untuk Car Free Day.
3. Sesampainya di Dieng turun di
pertigaan Dieng (dekat Terminal Dieng). Setelah itu bisa langsung check-in
penginapan. Penginapan Bu Djono ada di pertigaan Dieng tepatnya di Jl. Raya Dieng
Km 27 Dieng Wetan, Kejajar, Wonosobo. Untuk booking bisa datang langsung atau
hubungi 085227389949. Fasilitas kamar mandi luar, spring bed, dan lemari kecil.
4. Untuk keliling Dieng bisa
menyewa sepeda motor, silakan hubungi 085227004699. Selain harga sewa yang
lebih murah dibandingkan yang lainnya, pemilik sepeda motor juga ramah banget,
recommended!
HOW MUCH DOES IT COST?
1. Travel Solo-Wonosobo (Rp
110.000)
2. Penginapan Hotel Arjuna
Wonosobo (Rp 165.000/kamar/malam)
3. Bus Wonosobo-Dieng (Rp 15.000)
4. Sewa motor (Rp 100.000/24 jam)
5. Homestay Bu Djono Dieng (Rp
75.000/kamar/malam)
6. Tiket masuk Telaga Warna (Rp 5.000)
7. Tiket masuk Candi Arjuna dan
Kawah Sikidang (Rp 15.000)






Comments
Post a Comment