Dua Nama

12 Januari 2017. Ponsel berkali-kali dapat panggilan telepon dari nomor yang tak dikenal. Anehnya, setiap kali diangkat telepon malah dimatikan. Keesokan harinya pun begitu, berkali-kali nomor ponsel yang sama menelepon. Kali ini saya biarkan, karena saya kira orang iseng.

"Selamat siang kaka, apa kabar? aku imel di fatukoto, aku rindu sama kaka!"



Pukul 13.06 sebuah pesan singkat masuk ke inbox. Mata langsung membelalak ketika membaca isi pesan tersebut. Dua kata yang membuat senyum mendadak melebar; Imel dan Fatukoto. Dua nama yang pernah saya kenal dan hingga saat ini masih terngiang di kepala. Dua nama yang mengingatkan pada salah satu momen terbaik dalam hidup. Dua nama yang seketika membuat mata berkaca-kaca.

*****

Beberapa waktu sebelum mendapatkan pesan singkat dari Imel, kepala saya sudah penuh dengan angan-angan tentang Fatukoto. Dua tahun yang lalu, di waktu yang sama, saya dan kawan-kawan masih bersenang-senang di sebuah desa yang jauh dari keramaian tapi memberikan kedamaian. Dua tahun yang lalu, di waktu yang sama, kami masih susah payah bangun pagi melawan hawa dingin yang menusuk sampai ke tulang.

Dua tahun yang lalu, di waktu yang sama, kami masih bersiap-siap berangkat ke sekolah; membawa semangat untuk disebarkan di sekolah. Dua tahun yang lalu, di waktu yang sama, kami masih bersiap-siap ke dusun sebelah; membawa ilmu pertanian untuk diaplikasikan di lahan perkebunan. Dua tahun yang lalu, di waktu yang sama, kami masih bersiap-siap menjelajah; bawa kamera dan tripod untuk mengeksplor panorama yang tiada dua.

Rindu. Waktu benar-benar berjalan begitu cepat.

*****

13 Januari 2017. Pada tanggal yang sama dengan masuknya pesan singkat Imel ke ponsel, saya membalas pesan singkat tersebut. Pukul 13.13, pesan singkat terkirim ke sebuah nomor ponsel yang akhirnya saya beri nama: Imel Fatukoto.

"Imel udah lulus sekolah, imel sekarang lanjut SMA kaka...."

Pesan singkat berakhir dengan kabar baik dan kabar buruk. Kabar baiknya saat ini Imel sudah duduk di bangku SMA. Kabar buruknya, saya tidak punya pulsa untuk membalas pesan singkat Imel.

*****

14 Januari 2017. Nama Imel Fatukoto muncul di layar ponsel, itu tandanya Imel menelepon. Tidak saya angkat, sengaja. Setelah ponsel tidak berdering, barulah saya mencari nama Imel dan meneleponnya.

"Halo Imel, ini kaka sinta. Imel lagi apa?"

Dan untuk pertama kalinya dalam waktu dua tahun sejak meninggalkan Fatukoto, akhirnya saya ngobrol lagi dengan Imel, siswi SMP Satap yang dulu kami latih untuk jadi pengibar bendera saat upacara.

Kami ngobrol sana-sini, membicarakan banyak hal, menceritakan apapun yang ingin Imel sampaikan. Dalam teleponnya Imel berkata sedang berjalan kaki dari sekolah di Kappan menuju rumahnya di Fatukoto. Berapa jauh? Kalau naik kendaraan sekitar 30-45 menit, kalau berjalan kaki? Kata Imel bisa sampai 2 jam :’)

Kami membicarakan apapun, termasuk saat Imel bilang: “Kami di sini sangat rindu sama kaka-kaka. Kapan kaka ke Fatukoto lagi?”

Dan dengan berat hati saya katakan: “Nanti pasti kaka kembali ke Fatukoto, nanti kalau kaka ke Fatukoto pasti kaka akan beritahu Imel.”

*****

29 Januari 2017. Pukul 03.51 dan mata masih belum bisa terpejam. Sudah beberapa bulan terakhir ini saya mengalami kesulitan tidur. Waktu memang kejam, belum sempat saya tenggelam, pagi pun sudah tiba.

Katanya, kadar bahagia itu tergantung pribadi masing-masing. Katanya...

Comments